BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa
kanak-kanak dengan dewasa. Pada masa transisi ini, terjadi perubahan-perubahan
yang sangat cepat.
Oleh karena itu sebagai pendidik, kita perlu menghayati
tahapan perkembangan yang terjadi pada siswa sehingga dapat menegrti segala
tingkah laku yang ditampakkan siswa.
1.2.
Tujuan
1. Menjelaskan perkembangan fisik remaja usia sekolah
menengah
2. Menunjukkan perbedaan fisik antara remaja perempuan
dengan remaja laki-laki
3. Menjelaskan perkembangan intelek remaja usia sekolah
menengah
4. Menjelaskan perkembangan bahasa dan emosi remaja usia
sekolah menengah
5. Menjelaskan perkembangan bakat khusus remaja usia sekolah
menengah
1.3.Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah mengetahui
beberapa perkembangan yang terjadi pada remaja di usia sekolah, yaitu mulai
dari pekembanga fisik, intelektual, emosi, bahasa, dan perkembangan bakat
khusus.
Beberapa perkembangan tersebut berbeda-beda pada setiap
anak sehingga guru harus benar benar memahami dari setiap perkembangan pada
siswa. Untuk itu makalah ini sangat bermanfaat untuk mempelajari
perkembangan-perkembangan tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Fisik
Pada usia sekolah menengah yaitu usia SLTP dan SLTA, anak berada pada masa
peralihan masa remaja atau pubertas atau adolosen. Masa remaja merupakan masa
peralihan atau transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Meskipun
perkembangan aspek-aspek kepribadian telah diawali pada masa-masa sebelumnya,
tetapi puncaknya boleh dikatankan terjadi pada masa ini, sebab setelah melewati
masa ini, remaja tidak berubah menjadi seorang dewasa yang boleh dikatakan
telah terbentuk suatu pribadi yang relative tetap. Pada masa transisi ini
terjadi perubahan-perubahan ynag sangat cepat.
Masih dalam kaitan dengan perkembanga fisik, pada masa remaja juga terjadi
perkembangan hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang masuk
ke dalam darah. Hormon yang penting yang berkaitan dengan perkembangn seksual
adalh testoteron dan estrogen. Keduanya adalah baik pada pria maupun wanita,
tetapi konsentrasi yayng tinggi dari testoterone adalah pada pria, sehingga
sering disebut sebagai hormon kepriaan dan estrogen terkonsentrasi tinggi pada
wanita disebut hormon kewanitaan. Memang kedua jenis hormon tersebut
mempengaruhi perkembangan karakteristik kepriaan dan kewanitaan. Hormon
tersebut tidak hanya mempengaruhi perkembangan seksual, tetapi juga
pertumbunhan fisik.
Perbedaan
Profil Perkembangan Fisik
Antara
Siswa SLTP Dengan Siswa SLTA
|
No
|
Siswa SLTP
(Remaja Awal)
|
Siswa SLTA (
Remaja Akhir)
|
|
1
|
Laju
perkembangan secara umum berlangsung pesat
|
Laju
perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat
|
|
2
|
Proporsi
tinggi dan ukuran tinggi dan berat badan sering kurang seimbang (termasuk
otot dan tulang belulang)
|
Proporsi
ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan tubuh orang
dewasa.
|
|
3
|
Munculnya
ciri-ciri sekunder tumbuh bulu pada pubic region, otot mengembang pada
bagian-bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar kelenjar
jenis (menstruasi pada wanita dan polusi pada pria untuk pertama kali)
|
Siap
berfungsinya organ-organ reproduksi seperti pada orang-orang yang sudah
dewasa
|
|
4
|
Gerak-gerik
tampak canggung dan kurang terkoordinasikan
|
Gerak-geriknya
mulai mantap
|
|
5
|
Aktif
dalam berbagai jenis cabang, permainan yang dicobanya
|
Jenis dan
jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang
menunjang kepada persiapan kerja.
|
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik
- Faktro Internal
Faktor internal
adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu. Termasuk kedalam
faktor internal ini adalah sebagai berikut:
- Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya
Anak yang ayah dann ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi
tinggi dari pada anak yang berasal dari orangtua yang bertubuh pendek
- Kematangan
Secara sepintas, pertumbuhan fisik seoalh-olah seperti sudah direncanakan
oleh fakkematangan. Meskipun ank itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi
kalau saat keatangann belum sampai, petumbuhan akan tertunda.
- Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Termasuk
kedalam faktor eksternal adalah kesehatan, makanan, dan stimulasi lingkungan.
B.
Perkembangan Intelektual
sejalan dengan perkembangan fisik yang cepat, berkembang pula kemampuan
intelektual berfikirnya. Kalau pada usia sekolah dasar, kemampuan berfikir anak
masih berkenaan dengan hal-hal yang konkrit atau berfikir konkret, SLTP mulai berkembang kemampuan
berfikir abstrak , remaja mampu membayangkan apa yang akan dialami bila terjadi
suatu peristiwa umpamanya perang nuklir, kiamat dan sebagainya.
Oleh karena itu,
guru perlu mendorong mulai kemampuan berpikir, para siswa pada usia
dini, tentang kemungkinan ke depan. Mengarahkan para siswa kepada pemikiran
tentang pekerjaan yang tentunya pemikiran tersebut, disesuaikan denga pertambahan usia. Para remaja muda (usia
SLTP) pemikiran tentang pekerjaan masih diwarnai oleh fantasinya, sedangkan
pada remaja dewasa (usia SLTA) telah lebih realistik.
Perbedaan
Profil Perkembangan Intelektual
Antara
Siswa SLTP dengan Siswa SLTA
|
No
|
Siswa SLTP
(Remaja Awal)
|
Siswa SLTA (
Remaja Akhir)
|
|
1
|
Proses
berpikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi,
differensiasi, komparasi, dan kasualitas) dalam ide-ide atau pemikiran
abstrak (meskipun relativ terbatas)
|
sudah
mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika informal disertai kemampuan membuat
generalisasi yang lebih konklusif dan komphrehensif
|
|
2
|
kecakapan
dasar umum (general intelligence) menjalani laju perkembangan yang terpesat
(terutama bagi yang belajar disekolah)
|
Tercapainya
titik puncak ( kedewasaan itelektual umum, yang mungkin ada pertambahan yang
sangat terbatas bagi yang terus bersekolah )
|
|
3
|
Kecakapan
dasar khusus ( bakat atau aptitude) mulai menunjukkan
kecendrungan-kecendrungan lebih jelas
|
Kecendrungan
bakat tertebtu mencapai titik puncak dan kemantapannya
|
Tahap Perkembangan
Intelek/kognitif
- Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini,
anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh
kecendrungan-kecendrungan sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan
merrupakan perwujudan dari proses pemantangan aspek sensori-motoris tersebut.
Pada tahap ini intaraksi anak dengan lingkungannya termasuk juga dengan
orangtuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan
sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan
belajar mengkoordinasikan tindakan-tindakannya.
- Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini
disebut juga tahap ditandai oleh suasana intuitif. Artinya semua perbuatan
rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsur perasaan,
kecendrungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang yang
bermakna, dan lingkungan seitarnya.
- Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung antara 7-11 tahun. Pada tahap ini,
anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang
rasa ingin tahunya. Pada tahap ini, menurut Piaget, interaksinya dengan
lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan
baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati,
menimbang, mengevaluasi dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam
cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.
- Tahap Operasional Formal
Tahap in dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke ats. Pada masa ini anak
telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan
hasil dari berpikir lolgis. Aspek perasaan da moralnya juga telah berkembang
sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Karena tahap ini sudah mampu mengembangkakn pikiran
formalnya, mereka juga mampu mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan
abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka
dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat yang positif bagi
perkembangan kognitifnya. Misalnya menulis puisi, lomba karya ilmiah, lomba
menulis cerpen, dan sejenisnya.
Karakteristik
Perkembangan Intelek/Kognitif
1. Karakteristik
Tahap Sensori – Motoris
Tahap sensori –
motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :
- Sebagian tindakannya masih bresifat naluriah
- Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indera
- Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengkategoriikan pengalaman.
4.
Individu
mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema-skema sensori –
motoris.
2. Karakteristik
Tahap Praoperasional
Tahap
praoperasional ditandai dengan tahap karakteristik menonjol sebagai berikut :
- Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi
- Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyampaikan ide
- Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret
d.
Cara
berfikir individu bersifat egosentris ditandai oleh tingkah laku : berpikir
imajinatif, berbahasa egosentris, memiliki aku yang tinggi, menampakkan bahasa
mulai pesat.
3. Karakteristik
Tahap Operasional Konkret
Tahap operasional konkret ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa
segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan
yang mereka alami. Jadi, cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak
meskipun cara berpikirnya sudah tampak sistematis dan logis.
4. Karakteristik
Tahap Operasional Formal
Tahap operasional
formal ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :
- Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi
- Individu mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak
- Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotetis
- Individu mulai mampu memuat pikiran (forecasting) di masa depan
- Individu mulai mampu mengintropesi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai
- Individu mulai mampu membayangkan peran-peran yanng akan diperankan sebagai orenag dewasa
g.
Individu
mulai mampu untuk menyadari diri memepertahankan kepentingan masyarakat
dilingkarannya dan seseorang dalam masyarakat tertentu.
Menurut
Pieget, pemikiran operasi formal adalah deskripsi terbaik untuk menggambarkan
bagaimana remaja itu berpikir. Meskipun demikian, pemikiran o-perasi formal
bukanlah sebuah tahap yang bersifat homogen. Tidak semua remaja dapat
mempelajari pemikir operasi formal sepenuhnya. Sesungguhnya para ahli
petkembangan berpendapat bahwa pemikiran operasi formal terdiri dari dua
subperiode (Bnoughton 1943)
Ø Pemikiran operasi formal awal, penemuan remaja mengenai
kemampuannya untuk berpikir secara hipotesis menghasilkan pikiran-pikiran bebas,
dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, pelarian ke
fantasi dapat menggantikan realitas sehingga dunia dipandang secara terlalu idealistis.
Asimilasi adalah proses yang menonjol dalam subperiode ini.
Ø Pemikiran operasi formal akhir, ketika remaja menguji
penalarannya ke pengalaman, keseimbangan intelektual mengalami perbaikan.
Melalui akomodasi, remaja mulai menyesuaikan pergolakan yang dialami .
Pemiiran operasi
formal akhir dapat muncul di masa remaja menengah. Dalam pandangan ini,
asimilasi merupakan karakteristik pemikiran operasi formal awal, akomodasi
merupakan karakteristik pemikiran operasi formal akhir (Lapsley, 1990)
Evaluasi Terhadap Teori Piaget
Kontribusi Pieget adalah nama besar dalma bidang psikologi perkembangan.kita berhutang pada
pieget atas jasanya dalam bidang perkembangan kognitif dan atas konsep-konsep
yang snagat berpengaruh dan menarik, asimilasi, akomodasi, konservasi,
penalaran hipotesis-deduktif adalah beberapa diantaranya.
Pieget adalah seorang jenius dalam observasi anak-anak. Pengalamannya yang
cermat telah menghasilkan temuan-temuan cara baru yang dapat dipakai untuk
mengungkpakan bagaimana anak-anak bertindak dan beradaptasi terhadap dunianya.
Pieget memperlihatkan kepada kita mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam perkembangan kognitif, sepertiperalihan dan pemikiran praoperasional ke
pemikiran operasi konkret. Ia juga menyatakan bahwa anak-anak perlu
mengusahakan agar pengalaman mereka sesuai denga skema atau kerangka kerja kognitifnya, namun secara simultan juga
mengadaptasikan skemanya dengan pengalaman.
Kritik teori Pieget bukannya tidak memperoleh tantangan (
Keating, 2004, Kuhn & Franklin, 2006). Banyak ahli mengajukan pertanyaan
yang menyagkut saat perkembangan , keempat tahap perkembangan kognitif, manfaat
pelatihan penalaran, seta dampak budaya
terhadap bidang perkembangan kognitif.
Ditinjau dari saat perkembangan, terdapat sejumlah
kemampuan kognitif yang ternyata muncul lebih awal dan yang dinyatakan oleh
Pieget. Sebagai contoh, sejumlah aspek kekekalan benda muncul lebih awal dimasa
bayi, dibandingkan yang dinyatakan oleh Pieget. Bahkan seorang bayi berusia 2
tahu, tidak egosentris dibeberapa konteks. Ketika mereka menyadari bahwa orang
lain tidak dapat melihat sebuah benda, mereka menyelidiki apak orang tersebut
memakai penutup mata atau melihat ke lokasi yang berbeda. Demikian juga
konservasi angka telah muncul di usia 3 tahun, padaha menurut Pieget konservasi
tidak muncul sebelum anak berusia 7 tahun. Kenyataannya, tidak semua anak kecil
mengembangkan kemampuan berpikir praoperasional secara sama seprti yang dinyatakan oleh Pieget. Kemampuan
kognitif lainnya dapat muncul lebih lambat dari pada yang diperkirakan oleh
Pieget. Banyak remaja yang masih berpikir secara operasi konkret dan bukan
seorang pemikir operasi formal. Singkatnya, revisi teoritis belakangan inj
menekankan kompetensi kognitif dan
bayi dan anak-anak kecil serta
keterbatasan kognitif dan remaja dan
orang dewasa( Plavel, Miller & Miller, 2002; Wertsch, 2000)
Perubahan Kognitif di Masa
Dewasa, menurut Pieget,
oeang dewasa dan remaja menggunakan jenis penalaran yang sama. Secara
kualitatif, pemiliran reaja sama dengan pemikiran orang dewasa. Pieget
mengetahui bahwa secara kualitatif orang dewasa dapat lebih maju dalam
pengetahuannya
Bepikir
Realistis dan Pragmatis,
sebuah gagasan menyatakan bahwa ketika seorang dewasa muda memasuki dunia
kerja, cara berpikir mereka menghadapi desakana ralistis yang terkandung dalam
pekerjaan. Idealisme mereka menurun ( Labouvie-Vief, 1986)
Berpikir reflektfi dan relativistik juga mendeskripskan sejumlah perubahan
kognisi yang berlangsung dimasa dewasa awal. Menurut Perry, remaja sering kali
memandang dunia dalam polaritas benra/salah, kami/mereka, baik/buruk. Sebagai
pemuda yang beranjak dewasa, secara bertahap mereka mulai meninggalkan tipe
pemikiran yang absolut ini, mereka mulai menyadari berbgai pendapat dan
perspektif orang lain. Jadi, menurut Perry, pemikiran absolut, dualitik
(ya/tidak) remaja merupakan awal dan pemikiran reflektif relativistik seorang
dewasa. Ahli perkembangan lainnya juga berpendapat bahwa pemikiran reflektfi
merupakan sebuah indikator penting dan perubahan kognitif pada dewasa muda
(Fischer & Pruyne, 2003).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar