Senin, 06 November 2017

Makalah Perkembangan Pada Remaja (Perkembangan Peserta Didik)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Pada masa transisi ini, terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat.
Oleh karena itu sebagai pendidik, kita perlu menghayati tahapan perkembangan yang terjadi pada siswa sehingga dapat menegrti segala tingkah laku yang ditampakkan siswa.
1.2.           Tujuan
1.    Menjelaskan perkembangan fisik remaja usia sekolah menengah
2.    Menunjukkan perbedaan fisik antara remaja perempuan dengan remaja laki-laki
3.    Menjelaskan perkembangan intelek remaja usia sekolah menengah
4.    Menjelaskan perkembangan bahasa dan emosi remaja usia sekolah menengah
5.    Menjelaskan perkembangan bakat khusus remaja usia sekolah menengah

1.3.Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah mengetahui beberapa perkembangan yang terjadi pada remaja di usia sekolah, yaitu mulai dari pekembanga fisik, intelektual, emosi, bahasa, dan perkembangan bakat khusus.
Beberapa perkembangan tersebut berbeda-beda pada setiap anak sehingga guru harus benar benar memahami dari setiap perkembangan pada siswa. Untuk itu makalah ini sangat bermanfaat untuk mempelajari perkembangan-perkembangan tersebut.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.          Perkembangan Fisik
Pada usia sekolah menengah yaitu usia SLTP dan SLTA, anak berada pada masa peralihan masa remaja atau pubertas atau adolosen. Masa remaja merupakan masa peralihan atau transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Meskipun perkembangan aspek-aspek kepribadian telah diawali pada masa-masa sebelumnya, tetapi puncaknya boleh dikatankan terjadi pada masa ini, sebab setelah melewati masa ini, remaja tidak berubah menjadi seorang dewasa yang boleh dikatakan telah terbentuk suatu pribadi yang relative tetap. Pada masa transisi ini terjadi perubahan-perubahan ynag sangat cepat.
Masih dalam kaitan dengan perkembanga fisik, pada masa remaja juga terjadi perkembangan hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang masuk ke dalam darah. Hormon yang penting yang berkaitan dengan perkembangn seksual adalh testoteron dan estrogen. Keduanya adalah baik pada pria maupun wanita, tetapi konsentrasi yayng tinggi dari testoterone adalah pada pria, sehingga sering disebut sebagai hormon kepriaan dan estrogen terkonsentrasi tinggi pada wanita disebut hormon kewanitaan. Memang kedua jenis hormon tersebut mempengaruhi perkembangan karakteristik kepriaan dan kewanitaan. Hormon tersebut tidak hanya mempengaruhi perkembangan seksual, tetapi juga pertumbunhan fisik.

Perbedaan Profil Perkembangan Fisik
Antara Siswa SLTP Dengan Siswa SLTA
No
Siswa SLTP (Remaja Awal)
Siswa SLTA ( Remaja Akhir)
1
Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat
Laju perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat
2
Proporsi tinggi dan ukuran tinggi dan berat badan sering kurang seimbang (termasuk otot dan tulang belulang)
Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan tubuh orang dewasa.
3
Munculnya ciri-ciri sekunder tumbuh bulu pada pubic region, otot mengembang pada bagian-bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar kelenjar jenis (menstruasi pada wanita dan polusi pada pria untuk pertama kali)
Siap berfungsinya organ-organ reproduksi seperti pada orang-orang yang sudah dewasa
4
Gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan
Gerak-geriknya mulai mantap
5
Aktif dalam berbagai jenis cabang, permainan yang dicobanya
Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik
  1. Faktro Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu. Termasuk kedalam faktor internal ini adalah sebagai berikut:
  1. Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya
Anak yang ayah dann ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi dari pada anak yang berasal dari orangtua yang bertubuh pendek
  1. Kematangan
Secara sepintas, pertumbuhan fisik seoalh-olah seperti sudah direncanakan oleh fakkematangan. Meskipun ank itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat keatangann belum sampai, petumbuhan akan tertunda.
  1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Termasuk kedalam faktor eksternal adalah kesehatan, makanan, dan stimulasi lingkungan.

B.          Perkembangan Intelektual
sejalan dengan perkembangan fisik yang cepat, berkembang pula kemampuan intelektual berfikirnya. Kalau pada usia sekolah dasar, kemampuan berfikir anak masih berkenaan dengan hal-hal yang konkrit atau berfikir  konkret, SLTP mulai berkembang kemampuan berfikir abstrak , remaja mampu membayangkan apa yang akan dialami bila terjadi suatu peristiwa umpamanya perang nuklir, kiamat dan sebagainya.
Oleh karena itu,  guru perlu mendorong mulai kemampuan berpikir, para siswa pada usia dini, tentang kemungkinan ke depan. Mengarahkan para siswa kepada pemikiran tentang pekerjaan yang tentunya pemikiran tersebut, disesuaikan denga  pertambahan usia. Para remaja muda (usia SLTP) pemikiran tentang pekerjaan masih diwarnai oleh fantasinya, sedangkan pada remaja dewasa (usia SLTA) telah lebih realistik.

Perbedaan Profil Perkembangan Intelektual
Antara Siswa SLTP dengan Siswa SLTA
No
Siswa SLTP (Remaja Awal)
Siswa SLTA ( Remaja Akhir)
1
Proses berpikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, differensiasi, komparasi, dan kasualitas) dalam ide-ide atau pemikiran abstrak (meskipun relativ terbatas)
sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika informal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih konklusif dan komphrehensif
2
kecakapan dasar umum (general intelligence) menjalani laju perkembangan yang terpesat (terutama bagi yang belajar disekolah)
Tercapainya titik puncak ( kedewasaan itelektual umum, yang mungkin ada pertambahan yang sangat terbatas bagi yang terus bersekolah )
3
Kecakapan dasar khusus ( bakat atau aptitude) mulai menunjukkan kecendrungan-kecendrungan lebih jelas
Kecendrungan bakat tertebtu mencapai titik puncak dan kemantapannya


Tahap Perkembangan Intelek/kognitif
  1. Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecendrungan-kecendrungan sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan merrupakan perwujudan dari proses pemantangan aspek sensori-motoris tersebut. Pada tahap ini intaraksi anak dengan lingkungannya termasuk juga dengan orangtuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengkoordinasikan tindakan-tindakannya.
  1. Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap ditandai oleh suasana intuitif. Artinya semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsur perasaan, kecendrungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang yang bermakna, dan lingkungan seitarnya.
  1. Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung antara 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Pada tahap ini, menurut Piaget, interaksinya dengan lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.
  1. Tahap Operasional Formal
Tahap in dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke ats. Pada masa ini anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berpikir lolgis. Aspek perasaan da moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Karena tahap ini sudah mampu mengembangkakn pikiran formalnya, mereka juga mampu mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat yang positif bagi perkembangan kognitifnya. Misalnya menulis puisi, lomba karya ilmiah, lomba menulis cerpen, dan sejenisnya.

Karakteristik Perkembangan Intelek/Kognitif
1.    Karakteristik Tahap Sensori – Motoris
Tahap sensori – motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :
  1. Sebagian tindakannya masih bresifat naluriah
  2. Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indera
  3. Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengkategoriikan pengalaman.
4.      Individu mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema-skema sensori – motoris.
2.      Karakteristik Tahap Praoperasional
Tahap praoperasional ditandai dengan tahap karakteristik menonjol sebagai berikut :
  1. Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi
  2. Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyampaikan ide
  3. Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret
d.      Cara berfikir individu bersifat egosentris ditandai oleh tingkah laku : berpikir imajinatif, berbahasa egosentris, memiliki aku yang tinggi, menampakkan bahasa mulai pesat.
3.    Karakteristik Tahap Operasional Konkret
Tahap operasional konkret ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berpikirnya sudah tampak sistematis dan logis.
4.    Karakteristik Tahap Operasional  Formal
Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai  berikut :
  1. Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi
  2. Individu mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak
  3. Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotetis
  4. Individu mulai mampu memuat pikiran (forecasting) di masa depan
  5. Individu mulai mampu mengintropesi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai
  6. Individu mulai mampu membayangkan peran-peran yanng akan diperankan sebagai orenag dewasa
g.      Individu mulai mampu untuk menyadari diri memepertahankan kepentingan masyarakat dilingkarannya dan seseorang dalam masyarakat tertentu.
Menurut Pieget, pemikiran operasi formal adalah deskripsi terbaik untuk menggambarkan bagaimana remaja itu berpikir. Meskipun demikian, pemikiran o-perasi formal bukanlah sebuah tahap yang bersifat homogen. Tidak semua remaja dapat mempelajari pemikir operasi formal sepenuhnya. Sesungguhnya para ahli petkembangan berpendapat bahwa pemikiran operasi formal terdiri dari dua subperiode (Bnoughton 1943)
Ø Pemikiran operasi formal awal, penemuan remaja mengenai kemampuannya untuk berpikir secara hipotesis menghasilkan pikiran-pikiran bebas, dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, pelarian ke fantasi dapat menggantikan realitas sehingga dunia dipandang secara terlalu idealistis. Asimilasi adalah proses yang menonjol dalam subperiode ini.
Ø Pemikiran operasi formal akhir, ketika remaja menguji penalarannya ke pengalaman, keseimbangan intelektual mengalami perbaikan. Melalui akomodasi, remaja mulai menyesuaikan pergolakan yang dialami .
Pemiiran operasi formal akhir dapat muncul di masa remaja menengah. Dalam pandangan ini, asimilasi merupakan karakteristik pemikiran operasi formal awal, akomodasi merupakan karakteristik pemikiran operasi formal akhir (Lapsley, 1990)

Evaluasi Terhadap Teori Piaget
Kontribusi Pieget adalah nama besar dalma bidang  psikologi perkembangan.kita berhutang pada pieget atas jasanya dalam bidang perkembangan kognitif dan atas konsep-konsep yang snagat berpengaruh dan menarik, asimilasi, akomodasi, konservasi, penalaran hipotesis-deduktif adalah beberapa diantaranya.
Pieget adalah seorang jenius dalam observasi anak-anak. Pengalamannya yang cermat telah menghasilkan temuan-temuan cara baru yang dapat dipakai untuk mengungkpakan bagaimana anak-anak bertindak dan beradaptasi terhadap dunianya. Pieget memperlihatkan kepada kita mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kognitif, sepertiperalihan dan pemikiran praoperasional ke pemikiran operasi konkret. Ia juga menyatakan bahwa anak-anak perlu mengusahakan agar pengalaman mereka sesuai denga skema atau kerangka kerja  kognitifnya, namun secara simultan juga mengadaptasikan skemanya dengan pengalaman.
Kritik teori Pieget bukannya tidak memperoleh tantangan ( Keating, 2004, Kuhn & Franklin, 2006). Banyak ahli mengajukan pertanyaan yang menyagkut saat perkembangan , keempat tahap perkembangan kognitif, manfaat pelatihan penalaran,  seta dampak budaya terhadap bidang  perkembangan kognitif.
Ditinjau dari saat perkembangan, terdapat sejumlah kemampuan kognitif yang ternyata muncul lebih awal dan yang dinyatakan oleh Pieget. Sebagai contoh, sejumlah aspek kekekalan benda muncul lebih awal dimasa bayi, dibandingkan yang dinyatakan oleh Pieget. Bahkan seorang bayi berusia 2 tahu, tidak egosentris dibeberapa konteks. Ketika mereka menyadari bahwa orang lain tidak dapat melihat sebuah benda, mereka menyelidiki apak orang tersebut memakai penutup mata atau melihat ke lokasi yang berbeda. Demikian juga konservasi angka telah muncul di usia 3 tahun, padaha menurut Pieget konservasi tidak muncul sebelum anak berusia 7 tahun. Kenyataannya, tidak semua anak kecil mengembangkan kemampuan berpikir praoperasional secara sama seprti  yang dinyatakan oleh Pieget. Kemampuan kognitif lainnya dapat muncul lebih lambat dari pada yang diperkirakan oleh Pieget. Banyak remaja yang masih berpikir secara operasi konkret dan bukan seorang pemikir operasi formal. Singkatnya, revisi teoritis belakangan inj menekankan  kompetensi kognitif dan bayi  dan anak-anak kecil serta keterbatasan kognitif  dan remaja dan orang dewasa( Plavel, Miller & Miller, 2002; Wertsch, 2000)
Perubahan Kognitif di Masa Dewasa, menurut Pieget, oeang dewasa dan remaja menggunakan jenis penalaran yang sama. Secara kualitatif, pemiliran reaja sama dengan pemikiran orang dewasa. Pieget mengetahui bahwa secara kualitatif orang dewasa dapat lebih maju dalam pengetahuannya
Bepikir Realistis dan Pragmatis, sebuah gagasan menyatakan bahwa ketika seorang dewasa muda memasuki dunia kerja, cara berpikir mereka menghadapi desakana ralistis yang terkandung dalam pekerjaan. Idealisme mereka menurun ( Labouvie-Vief, 1986)
Berpikir reflektfi dan relativistik juga mendeskripskan sejumlah perubahan kognisi yang berlangsung dimasa dewasa awal. Menurut Perry, remaja sering kali memandang dunia dalam polaritas benra/salah, kami/mereka, baik/buruk. Sebagai pemuda yang beranjak dewasa, secara bertahap mereka mulai meninggalkan tipe pemikiran yang absolut ini, mereka mulai menyadari berbgai pendapat dan perspektif orang lain. Jadi, menurut Perry, pemikiran absolut, dualitik (ya/tidak) remaja merupakan awal dan pemikiran reflektif relativistik seorang dewasa. Ahli perkembangan lainnya juga berpendapat bahwa pemikiran reflektfi merupakan sebuah indikator penting dan perubahan kognitif pada dewasa muda (Fischer & Pruyne, 2003).