Kamis, 16 Februari 2017

Sistem Distribusi Tenaga Listrik



BAB I
Pendahuluan
Latar Belakang :
            Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sistim kelistrikan adalah kondisi dari konstruksi pada Jaringan Pendistribusian tenaga listrik yang meliputi Jaringan Tegangan Tinggi (JTT) ,Jaringan Tegangan Menengah (JTM), Gardu Distribusi, Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dan Sambungan Tenaga Lisrik (Rumah/Pelayanan).
          Pada pendistribusian tenaga listrik sampai ke pengguna tenaga listrik di suatu kawasan, penggunaan sistem Jaringan Tegangan Tinggi & Tegangan Menengah adalah sebagai upaya utama untuk menghindarkan rugi-rugi penyaluran (losses) dengan kualitas persyaratan tegangan yang harus dipenuhi.  
            Dalam kesempatan ini kelompok kami ingin menjabarkan mengenai Pengertian dan Fungsi dari Sistem Distribusi Tenaga Listrik mulai dari pembangkitan sampai kepada konsumen.

Rumusan Masalah :
·         Pengertian dan fungsi Sistem Distribusi Tenaga Litrik
·         Klasifikasi saluran Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Tujuan :
Setelah membaca makalah ini Mahasiswa diharapkan mengetahui dan memahami :
·         Pengertian dan fungsi Sistem Distribusi Tenaga Litrik &
·         Klasifikasi saluran Sistem Distribusi Tenaga Listrik.









BAB II
Pembahasan

A.    SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
           
Secara umum sistem tenaga listrik tersusun atas tiga subsistem pokok, yaitu :
·         Subsistem pembangkit
·         Subsistem transmisi
·         Subsistem distribusi
Subsistem  pembangkit merupakan sistem yang berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik. Tenaga listrik yang dibangkitkan kemudian ditransmisikan dalam daya yang besar  oleh sistem transmisi ke gardu induk transmisi (GI). Dari GI transmisi tenaga listrik disubtransmisikan ke GI distribusi, kemudian didistribusikan kepada pelanggan secara langsung dan ke gardu-gardu distribusi untuk keperluan pelanggan dengan daya dan tegangan rendah.
Sistem distribusi tenaga listrik merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar (bulk power source) sampai ke konsumen. Jadi, fungsi sistem distribusi tenaga listrik adalah untuk pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat konsumen. Selain itu, juga merupakan subsistem tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan pelanggan, karena catu daya pada pusat -pusat beban (konsumen) dilayani langsung melalui jaringan distribusi.
 Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik besar dengan tegangan dari 11 kV sampai 24 kV dinaikkan tegangannya oleh gardu induk dengan trafo penaik tegangan menjadi 70 kV ,154 kV, 220 kV atau 500 kV kemudian disalurkan melalui saluran transmisi. Tujuan menaikkan tegangan ialah untuk memperkecil kerugian daya listrik pada saluran transmisi, dimana kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir dan resistansi pada saluran (I2R). Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang mengalir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula.
 Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 kV dengan transformator penurun tegangan pada gardu induk distribusi, kemudian dengan sistem tegangan tersebut penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran distribusi primer. Dari saluran distribusi primer inilah gardu-gardu distribusi mengambil tegangan untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi menjadi sistem tegangan rendah, yaitu 220/380 Volt. Selanjutnya disalurkan oleh saluran distribusi sekunder ke konsumen-konsumen. Dengan ini jelas bahwa sistem distribusi merupakan bagian yang penting dalam sistem tenaga listrik secara keseluruhan.
Single Line Diagram Sistem Tenaga Listrik
            Secara umum Sistem Pendistribusian dapat di bagi menjadi :
a. Jaringan subtransmisi
Jaringan subtransmisi berfungsi menyalurkan daya listrik dari sumber daya  besar menuju ke gardu induk (GI) yang terletak di daerah beban. Jaringan subtransmisi biasanya menggunakan tegangan tinggi dalam penyaluran tegangannya. Hal ini dilakukan untuk berbagai alasan efisiensi, diantaranya adalah penggunaan penampang penghantar menjadi efisien, karena arus yang mengalir akan menjadi lebih kecil ketika tegangan tinggi diterapkan.


b. Gardu Induk (GI)
GI berfungsi menerima daya listrik dari jaringan substransmisi dan menurunkan tegangannya menjadi 12 atau 20 kV. Tegangan yang telah diturunkan ini kemudian akan disalurkan ke pelanggan dengan dibagi ke beberapa penyulang. Penyulang dalam jaringan distribusi merupakan saluran yang menghubungkan gardu induk dengan gardu distribusi.  Pada gardu induk biasanya dilengkapi dengan peraltan ukur dan peralatan  pengaman (proteksi) untuk menjaga kelangsungan pelayanan serta melindungi peralatan lainnya.
c. Gardu Hubung
Gardu hubung berfungsi menerima daya listrik dari gardu induk yang telah  diturunkan menjadi tegangan menengah dan menyalurkan daya listrik tersebut tanpa mengubah tegangangannya melalui jaringan distribusi primer menuju ke gardu distribusi. Gardu hubung pada umumnya menghubungkan dua atau lebih bagian jaringan primer disuatu kota. Dapat pula terjadi bahwa pada suatu gardu hubung terdapat sebuah transformator pengatur tegangan.
d. Jaringan Distribusi Primer
Jaringan distribusi primer atau yang sering disebut jaringan tegangan menengah adalah jaringan pendistribusian tegangan menengah yang disalurkan oleh gardu induk atau gardu hubung yang kemudian akan diubah menjadi tegangan rendah setelah melalui gardu distribusi. Adapun tegangan yang melewat dari jaringan ini biasanya sebesar 12 kV atau 20 kV.
e. Gardu Distribusi
Gardu distribusi adalah bagian yang berfungsi untuk menyalurkan atau meneruskan tenaga listrik tegangan menengah ke konsumen tegangan rendah, atau  dapat pula berfungsi untuk menyalurkan atau meneruskan tenaga listrik tegangan  menengah ke gardu distribusi lainnya. Di dalam gardu distribusi terdapat peralatan listrik berupa pemutus, penghubung, pengaman, dan trafo distribusi untuk mendistribusikan tenaga listrik  sesuai dengan kebutuhan tegangan konsumen. Peralatan – peralatan ini adalah untuk menunjang pendistribusian tenaga listrik yang baik, yang mencakup kontinuitas pelayanan, bermutu tinggi, dan menjamin keselamatan manusia.
f. Jaringan Distribusi Sekunder
Jaringan distribusi sekunder menghubungkan sisi tegangan rendah trafo distribusi ke konsumen dengan menggunakan saluran udara 3 phasa 4 kawat. Namun untuk daerah – daerah khusus, misalnya daerah yang padat penduduknya  dan daerah yang tinggi dipergunakan sistem kabel bawah tanah.
B.     SISTEM PENDISTRIBUSIAN TENAGA LISTRIK
Sistem pendistribusian tenaga listrik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Sistem Pendistribusian Langsung
Sistem pendistribusian langsung merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan secara langsung dari Pusat Pembangkit Tenaga Listrik, dan tidak melalui jaringan transmisi terlebih dahulu. Sistem pendistribusian langsung ini digunakan jika Pusat Pembangkit Tenaga Listrik berada tidak jauh dari pusat-pusat beban, biasanya terletak daerah pelayanan beban atau dipinggiran kota.
2. Sistem Pendistribusian Tak Langsung
Sistem pendistribusian tak langsung merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan jika Pusat Pembangkit Tenaga Listrik jauh dari pusat-pusat beban, sehingga untuk penyaluran tenaga listrik memerlukan jaringan transmisi sebagai jaringan perantara sebelum dihubungkan dengan jaringan distribusi yang langsung menyalurkan tenaga listrik ke konsumen.

C.    PERSYARATAN SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
Dalam usaha meningkatkan kualitas, keterandalan, dan pelayanan tenaga listrik ke konsumen, maka diperlukan persyaratan sistem distribusi tenaga listrik yang memenuhi alasan-alasan teknis, ekonomis, dan sosial sehingga dapat memenuhi standar kualitas dari sistem pendistribusian tenaga listrik tersebut.
Adapun syarat-syarat sistem distribusi tenaga listrik tersebut adalah :
1. Faktor Keterandalan Sistem
a). Kontinuitas penyaluran tenaga listrik ke konsumen harus terjamin selama 24 jam terus-menerus. Persyaratan ini cukup berat, selain harus tersedianya tenaga listrik pada Pusat Pembangkit Tenaga Listrik dengan jumlah yang cukup besar, juga kualitas sistem distribusi tenaga listrik harus dapat diandalkan, karena digunakan secara terus-menerus. Untuk hal tersebut diperlukan beberapa cadangan, yaitu cadangan siap, cadangan panas, dan cadangan diam.
b). Setiap gangguan yang terjadi dengan mudah dilacak dan diisolir sehingga pemadaman tidak perlu terjadi. Untuk itu diperlukan alatalat pengaman dan alat pemutus tegangan (air break switch) pada setiap wilayah beban.
c). Sistem proteksi dan pengaman jaringan harus tetap dapat bekerja dengan baik dan cepat.


2. Faktor Kualitas Sistem
a).Kualitas tegangan listrik yang sampai ke titik beban harus memenuhi persyaratan minimal untuk setiap kondisi dan sifat-sifat beban. Oleh karena itu diperlukan stabilitas tegangan (voltage regulator) yang bekerja secara otomatis untuk menjamin kualitas tegangan sampai ke konsumen stabil.
b). Tegangan jatuh atau tegangan drop dibatasi pada harga 10 % dari tegangan nominal sistem untuk setiap wilayah beban. (Lihat IEC Publication 38/1967). Untuk itu untuk daerah beban yang terlalu padat diberikan beberapa voltage regulator untuk menstabilkan tegangan.
c). Kualitas peralatan listrik yang terpasang pada jaringan dapat menahan tegangan lebih (over voltage) dalam waktu singkat.
3. Faktor Keselamatan Sistem dan Publik
a). Keselamatan penduduk dengan adanya jaringan tenaga listrik harus terjamin dengan baik. Artinya, untuk daerah padat penduduknya diperlukan rambu-rambu pengaman dan peringatan agar penduduk dapat mengetahui bahaya listrik. Selain itu untuk daerah yang sering mengalami gangguan perlu dipasang alat pengaman untuk dapat meredam gangguan tersebut secara cepat dan terpadu.
b). Keselamatan alat dan perlengkapan jaringan yang dipakai hendaknya memiliki kualitas yang baik dan dapat meredam secara cepat bila terjadi gangguan pada sistem jaringan. Untuk itu diperlukan jadwal pengontrolan alat dan perlengkapan jaringan secara terjadwal dengan baik dan berkesinambungan.
4. Faktor Pemeliharaan Sistem
a). Kontinuitas pemeliharaan sistem perlu dijadwalkan secara berkesinam-bungan sesuai dengan perencanaan awal yang telah ditetapkan, agar kualitas sistem tetap terjaga dengan baik.
b). Pengadaan material listrik yang dibutuhkan hendaknya sesuai dengan jenis/ spesifikasi material yang dipakai, sehingga bisa dihasilkan kualitas sistem yang lebih baik dan murah.


5. Faktor Perencanaan Sistem
Perencanaan jaringan distribusi harus dirancang semaksimal mungkin, untuk perkembangan dikemudian hari.































BAB III
Penutup
Kesimpulan :
Secara umum sistem tenaga listrik tersusun atas tiga subsistem pokok, yaitu :
·         Subsistem pembangkit
·         Subsistem transmisi
·         Subsistem distribusi

Secara umum Sistem Pendistribusian dapat di bagi menjadi :
·         Jaringan Subtransmisi
·         Gardu Induk
·         Gardu Hubung
·         Jaringan Distribusi Primer
·         Gardu Distribusi
·         Jaringan Distribusi Sekunder

Sistem pendistribusian tenaga listrik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
·         Sistem Pendistribusian Langsung
Sistem pendistribusian langsung merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan secara langsung dari Pusat Pembangkit Tenaga Listrik, dan tidak melalui jaringan transmisi terlebih dahulu.
·         Sistem Pendistribusian Tak Langsung
Sistem pendistribusian tak langsung merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan jika Pusat Pembangkit Tenaga Listrik jauh dari pusat-pusat beban, sehingga untuk penyaluran tenaga listrik memerlukan jaringan transmisi sebagai jaringan perantara sebelum dihubungkan dengan jaringan distribusi yang langsung menyalurkan tenaga listrik ke konsumen.





DAFTAR PUSTAKA
·         Academia.edu
·         Abdul Kadir, Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik, Penerbit Universitas Indonesia, 2000, Hal.5.
·         Daman Suswanto, SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK.

Tidak ada komentar: