Senin, 06 November 2017

Makalah Perkembangan Pada Remaja (Perkembangan Peserta Didik)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Pada masa transisi ini, terjadi perubahan-perubahan yang sangat cepat.
Oleh karena itu sebagai pendidik, kita perlu menghayati tahapan perkembangan yang terjadi pada siswa sehingga dapat menegrti segala tingkah laku yang ditampakkan siswa.
1.2.           Tujuan
1.    Menjelaskan perkembangan fisik remaja usia sekolah menengah
2.    Menunjukkan perbedaan fisik antara remaja perempuan dengan remaja laki-laki
3.    Menjelaskan perkembangan intelek remaja usia sekolah menengah
4.    Menjelaskan perkembangan bahasa dan emosi remaja usia sekolah menengah
5.    Menjelaskan perkembangan bakat khusus remaja usia sekolah menengah

1.3.Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah mengetahui beberapa perkembangan yang terjadi pada remaja di usia sekolah, yaitu mulai dari pekembanga fisik, intelektual, emosi, bahasa, dan perkembangan bakat khusus.
Beberapa perkembangan tersebut berbeda-beda pada setiap anak sehingga guru harus benar benar memahami dari setiap perkembangan pada siswa. Untuk itu makalah ini sangat bermanfaat untuk mempelajari perkembangan-perkembangan tersebut.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.          Perkembangan Fisik
Pada usia sekolah menengah yaitu usia SLTP dan SLTA, anak berada pada masa peralihan masa remaja atau pubertas atau adolosen. Masa remaja merupakan masa peralihan atau transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Meskipun perkembangan aspek-aspek kepribadian telah diawali pada masa-masa sebelumnya, tetapi puncaknya boleh dikatankan terjadi pada masa ini, sebab setelah melewati masa ini, remaja tidak berubah menjadi seorang dewasa yang boleh dikatakan telah terbentuk suatu pribadi yang relative tetap. Pada masa transisi ini terjadi perubahan-perubahan ynag sangat cepat.
Masih dalam kaitan dengan perkembanga fisik, pada masa remaja juga terjadi perkembangan hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang masuk ke dalam darah. Hormon yang penting yang berkaitan dengan perkembangn seksual adalh testoteron dan estrogen. Keduanya adalah baik pada pria maupun wanita, tetapi konsentrasi yayng tinggi dari testoterone adalah pada pria, sehingga sering disebut sebagai hormon kepriaan dan estrogen terkonsentrasi tinggi pada wanita disebut hormon kewanitaan. Memang kedua jenis hormon tersebut mempengaruhi perkembangan karakteristik kepriaan dan kewanitaan. Hormon tersebut tidak hanya mempengaruhi perkembangan seksual, tetapi juga pertumbunhan fisik.

Perbedaan Profil Perkembangan Fisik
Antara Siswa SLTP Dengan Siswa SLTA
No
Siswa SLTP (Remaja Awal)
Siswa SLTA ( Remaja Akhir)
1
Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat
Laju perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat
2
Proporsi tinggi dan ukuran tinggi dan berat badan sering kurang seimbang (termasuk otot dan tulang belulang)
Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan tubuh orang dewasa.
3
Munculnya ciri-ciri sekunder tumbuh bulu pada pubic region, otot mengembang pada bagian-bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar kelenjar jenis (menstruasi pada wanita dan polusi pada pria untuk pertama kali)
Siap berfungsinya organ-organ reproduksi seperti pada orang-orang yang sudah dewasa
4
Gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan
Gerak-geriknya mulai mantap
5
Aktif dalam berbagai jenis cabang, permainan yang dicobanya
Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik
  1. Faktro Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu. Termasuk kedalam faktor internal ini adalah sebagai berikut:
  1. Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya
Anak yang ayah dann ibunya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi dari pada anak yang berasal dari orangtua yang bertubuh pendek
  1. Kematangan
Secara sepintas, pertumbuhan fisik seoalh-olah seperti sudah direncanakan oleh fakkematangan. Meskipun ank itu diberi makanan yang bergizi tinggi, tetapi kalau saat keatangann belum sampai, petumbuhan akan tertunda.
  1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Termasuk kedalam faktor eksternal adalah kesehatan, makanan, dan stimulasi lingkungan.

B.          Perkembangan Intelektual
sejalan dengan perkembangan fisik yang cepat, berkembang pula kemampuan intelektual berfikirnya. Kalau pada usia sekolah dasar, kemampuan berfikir anak masih berkenaan dengan hal-hal yang konkrit atau berfikir  konkret, SLTP mulai berkembang kemampuan berfikir abstrak , remaja mampu membayangkan apa yang akan dialami bila terjadi suatu peristiwa umpamanya perang nuklir, kiamat dan sebagainya.
Oleh karena itu,  guru perlu mendorong mulai kemampuan berpikir, para siswa pada usia dini, tentang kemungkinan ke depan. Mengarahkan para siswa kepada pemikiran tentang pekerjaan yang tentunya pemikiran tersebut, disesuaikan denga  pertambahan usia. Para remaja muda (usia SLTP) pemikiran tentang pekerjaan masih diwarnai oleh fantasinya, sedangkan pada remaja dewasa (usia SLTA) telah lebih realistik.

Perbedaan Profil Perkembangan Intelektual
Antara Siswa SLTP dengan Siswa SLTA
No
Siswa SLTP (Remaja Awal)
Siswa SLTA ( Remaja Akhir)
1
Proses berpikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, differensiasi, komparasi, dan kasualitas) dalam ide-ide atau pemikiran abstrak (meskipun relativ terbatas)
sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika informal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih konklusif dan komphrehensif
2
kecakapan dasar umum (general intelligence) menjalani laju perkembangan yang terpesat (terutama bagi yang belajar disekolah)
Tercapainya titik puncak ( kedewasaan itelektual umum, yang mungkin ada pertambahan yang sangat terbatas bagi yang terus bersekolah )
3
Kecakapan dasar khusus ( bakat atau aptitude) mulai menunjukkan kecendrungan-kecendrungan lebih jelas
Kecendrungan bakat tertebtu mencapai titik puncak dan kemantapannya


Tahap Perkembangan Intelek/kognitif
  1. Tahap Sensori-Motoris
Tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, anak berada dalam suatu masa pertumbuhan yang ditandai oleh kecendrungan-kecendrungan sensori-motoris yang sangat jelas. Segala perbuatan merrupakan perwujudan dari proses pemantangan aspek sensori-motoris tersebut. Pada tahap ini intaraksi anak dengan lingkungannya termasuk juga dengan orangtuanya, anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan berbagai gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengkoordinasikan tindakan-tindakannya.
  1. Tahap Praoperasional
Tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Tahap ini disebut juga tahap ditandai oleh suasana intuitif. Artinya semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tetapi oleh unsur perasaan, kecendrungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang-orang yang bermakna, dan lingkungan seitarnya.
  1. Tahap Operasional Konkret
Tahap ini berlangsung antara 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Pada tahap ini, menurut Piaget, interaksinya dengan lingkungannya, termasuk dengan orang tuanya, sudah semakin berkembang dengan baik karena egosentrisnya sudah semakin berkurang. Anak sudah dapat mengamati, menimbang, mengevaluasi dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain dalam cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif.
  1. Tahap Operasional Formal
Tahap in dialami oleh anak pada usia 11 tahun ke ats. Pada masa ini anak telah mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari berpikir lolgis. Aspek perasaan da moralnya juga telah berkembang sehingga dapat mendukung penyelesaian tugas-tugasnya.
Karena tahap ini sudah mampu mengembangkakn pikiran formalnya, mereka juga mampu mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi. Arti simbolik dan kiasan dapat mereka mengerti. Melibatkan mereka dalam suatu kegiatan akan lebih memberikan akibat yang positif bagi perkembangan kognitifnya. Misalnya menulis puisi, lomba karya ilmiah, lomba menulis cerpen, dan sejenisnya.

Karakteristik Perkembangan Intelek/Kognitif
1.    Karakteristik Tahap Sensori – Motoris
Tahap sensori – motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut :
  1. Sebagian tindakannya masih bresifat naluriah
  2. Aktivitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indera
  3. Individu baru mampu melihat dan meresapi pengalaman, tetapi belum mampu untuk mengkategoriikan pengalaman.
4.      Individu mulai belajar menangani objek-objek konkret melalui skema-skema sensori – motoris.
2.      Karakteristik Tahap Praoperasional
Tahap praoperasional ditandai dengan tahap karakteristik menonjol sebagai berikut :
  1. Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi
  2. Individu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyampaikan ide
  3. Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa konkret
d.      Cara berfikir individu bersifat egosentris ditandai oleh tingkah laku : berpikir imajinatif, berbahasa egosentris, memiliki aku yang tinggi, menampakkan bahasa mulai pesat.
3.    Karakteristik Tahap Operasional Konkret
Tahap operasional konkret ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berpikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berpikirnya sudah tampak sistematis dan logis.
4.    Karakteristik Tahap Operasional  Formal
Tahap operasional formal ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai  berikut :
  1. Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan abstraksi
  2. Individu mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek yang abstrak
  3. Individu mulai mampu memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotetis
  4. Individu mulai mampu memuat pikiran (forecasting) di masa depan
  5. Individu mulai mampu mengintropesi diri sendiri sehingga kesadaran diri sendiri tercapai
  6. Individu mulai mampu membayangkan peran-peran yanng akan diperankan sebagai orenag dewasa
g.      Individu mulai mampu untuk menyadari diri memepertahankan kepentingan masyarakat dilingkarannya dan seseorang dalam masyarakat tertentu.
Menurut Pieget, pemikiran operasi formal adalah deskripsi terbaik untuk menggambarkan bagaimana remaja itu berpikir. Meskipun demikian, pemikiran o-perasi formal bukanlah sebuah tahap yang bersifat homogen. Tidak semua remaja dapat mempelajari pemikir operasi formal sepenuhnya. Sesungguhnya para ahli petkembangan berpendapat bahwa pemikiran operasi formal terdiri dari dua subperiode (Bnoughton 1943)
Ø Pemikiran operasi formal awal, penemuan remaja mengenai kemampuannya untuk berpikir secara hipotesis menghasilkan pikiran-pikiran bebas, dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam periode awal ini, pelarian ke fantasi dapat menggantikan realitas sehingga dunia dipandang secara terlalu idealistis. Asimilasi adalah proses yang menonjol dalam subperiode ini.
Ø Pemikiran operasi formal akhir, ketika remaja menguji penalarannya ke pengalaman, keseimbangan intelektual mengalami perbaikan. Melalui akomodasi, remaja mulai menyesuaikan pergolakan yang dialami .
Pemiiran operasi formal akhir dapat muncul di masa remaja menengah. Dalam pandangan ini, asimilasi merupakan karakteristik pemikiran operasi formal awal, akomodasi merupakan karakteristik pemikiran operasi formal akhir (Lapsley, 1990)

Evaluasi Terhadap Teori Piaget
Kontribusi Pieget adalah nama besar dalma bidang  psikologi perkembangan.kita berhutang pada pieget atas jasanya dalam bidang perkembangan kognitif dan atas konsep-konsep yang snagat berpengaruh dan menarik, asimilasi, akomodasi, konservasi, penalaran hipotesis-deduktif adalah beberapa diantaranya.
Pieget adalah seorang jenius dalam observasi anak-anak. Pengalamannya yang cermat telah menghasilkan temuan-temuan cara baru yang dapat dipakai untuk mengungkpakan bagaimana anak-anak bertindak dan beradaptasi terhadap dunianya. Pieget memperlihatkan kepada kita mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kognitif, sepertiperalihan dan pemikiran praoperasional ke pemikiran operasi konkret. Ia juga menyatakan bahwa anak-anak perlu mengusahakan agar pengalaman mereka sesuai denga skema atau kerangka kerja  kognitifnya, namun secara simultan juga mengadaptasikan skemanya dengan pengalaman.
Kritik teori Pieget bukannya tidak memperoleh tantangan ( Keating, 2004, Kuhn & Franklin, 2006). Banyak ahli mengajukan pertanyaan yang menyagkut saat perkembangan , keempat tahap perkembangan kognitif, manfaat pelatihan penalaran,  seta dampak budaya terhadap bidang  perkembangan kognitif.
Ditinjau dari saat perkembangan, terdapat sejumlah kemampuan kognitif yang ternyata muncul lebih awal dan yang dinyatakan oleh Pieget. Sebagai contoh, sejumlah aspek kekekalan benda muncul lebih awal dimasa bayi, dibandingkan yang dinyatakan oleh Pieget. Bahkan seorang bayi berusia 2 tahu, tidak egosentris dibeberapa konteks. Ketika mereka menyadari bahwa orang lain tidak dapat melihat sebuah benda, mereka menyelidiki apak orang tersebut memakai penutup mata atau melihat ke lokasi yang berbeda. Demikian juga konservasi angka telah muncul di usia 3 tahun, padaha menurut Pieget konservasi tidak muncul sebelum anak berusia 7 tahun. Kenyataannya, tidak semua anak kecil mengembangkan kemampuan berpikir praoperasional secara sama seprti  yang dinyatakan oleh Pieget. Kemampuan kognitif lainnya dapat muncul lebih lambat dari pada yang diperkirakan oleh Pieget. Banyak remaja yang masih berpikir secara operasi konkret dan bukan seorang pemikir operasi formal. Singkatnya, revisi teoritis belakangan inj menekankan  kompetensi kognitif dan bayi  dan anak-anak kecil serta keterbatasan kognitif  dan remaja dan orang dewasa( Plavel, Miller & Miller, 2002; Wertsch, 2000)
Perubahan Kognitif di Masa Dewasa, menurut Pieget, oeang dewasa dan remaja menggunakan jenis penalaran yang sama. Secara kualitatif, pemiliran reaja sama dengan pemikiran orang dewasa. Pieget mengetahui bahwa secara kualitatif orang dewasa dapat lebih maju dalam pengetahuannya
Bepikir Realistis dan Pragmatis, sebuah gagasan menyatakan bahwa ketika seorang dewasa muda memasuki dunia kerja, cara berpikir mereka menghadapi desakana ralistis yang terkandung dalam pekerjaan. Idealisme mereka menurun ( Labouvie-Vief, 1986)
Berpikir reflektfi dan relativistik juga mendeskripskan sejumlah perubahan kognisi yang berlangsung dimasa dewasa awal. Menurut Perry, remaja sering kali memandang dunia dalam polaritas benra/salah, kami/mereka, baik/buruk. Sebagai pemuda yang beranjak dewasa, secara bertahap mereka mulai meninggalkan tipe pemikiran yang absolut ini, mereka mulai menyadari berbgai pendapat dan perspektif orang lain. Jadi, menurut Perry, pemikiran absolut, dualitik (ya/tidak) remaja merupakan awal dan pemikiran reflektif relativistik seorang dewasa. Ahli perkembangan lainnya juga berpendapat bahwa pemikiran reflektfi merupakan sebuah indikator penting dan perubahan kognitif pada dewasa muda (Fischer & Pruyne, 2003).
           





Senin, 04 September 2017

Instrumen Penilaian


BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Dalam persiapan stategi proses belajar mengajar perlu disusun instumen penilaian dalam standar penguasaan. Penyusunan instrumen penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan penguasaan siswa terhadap suatu materi atau pokok bahasan. Seperti yang tercantum dalam buku Pelaksanaan Penilaian (2001), istilah instrumen penilaian disebut dengan istilah teknik penilaian yang berupa teknik tes dan nontes.

B.     Tujuan

1.      Memahami jenis – jenis instrumen penilaian
2.      Langkah – langkah penyusunan instrumen penilaian
3.      langkah memberikan penskoran pada tes

C.    Rumusan Masalah

1.      Apa saja  jenis – jenis tes
2.      Bagaimana langkah membuat instrumen penilaian tes
3.      Bagaimana langkah penskoran pada tes
















BAB II

PEMBAHASAN



A.    Jenis-Jenis Alat Penilaian

1.      Tes

Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telag menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.
Alat penilaian teknik tes, yaitu :
(a)  Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang harus diselesaikan oleh siswa secara tertulis;
(b)   Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara tanya jawab;
(c)    Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan yang mengukur keterampilan.
Bentuk penilaian berupa tes tertulis terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi piihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat. Bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian bebas. Agar diperoleh hasil penilaian yang objektif, hendaknya guru dapat menggunakan uraian terbatas dengan pemberian alternatif kunci pokok jawaban yang mungkin dijawab siswa untuk setiap soalnya.
Secara rinci teknis penilaian siswa bisa dilakukan dengan:
a.     Ulangan harian
Ulangan harian umumnya diberikan setelah selesainya satu materi pembelajaran tertentu.
b.    Tugas kelompok
Tugas kelompok dimaksudkan sebagai latihan bagi siswa dalam mengembangkan kompetensi kerja kelompok.
c.     Kuis
Kuis merupakan tes yang membutuhkan waktu singkat yaitu berkisar 10 – 15 menit. Pertanyaan hanya merupakan hal yang prinsip saja dan bentuk jawaban merupakan isian singkat.
d.    Ulangan Blok
Ulangan blok merupakan tes pada akhir beberapa materi pelajaran dengan bahan semua materi pokok yang telah diberikan. Materi yang diujikan disusun berdasarkan kisi-kisi soal.
e.     Pertanyaan Lisan
Pertanyaan yang diberikan berupa pengetahuan atau pemahaman tentang konsep. Teknik bertanya dilakukan memberikan pertanyaan kepada seluruh kelas dan siswa diberi kesempatan untuk memikirkan jawaban dan secara acak  menunjuk salah satu siswa untuk menjawab.
f.     Tugas individu
Tugas individu dimaksudkan sebagai latihan bagi siswa umtuk mengembangkan wawasan dan kompetensi berfikir.

2.      Nontes

Penilaian nontes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui :
a.     Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar  pengamatan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas;
b.    Skala sikap, yaitiu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-sial yag lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa;
c.     Angket, yaitu alat penilaian yang menyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis;
d.    Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai prilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya;

Aspek-aspek yang dieksploitasi dalam menilai non tes antara lain:
1)    Catatan Prilaku Harian
Tujuannya adalah untuk memperoleh bukti secara tertulis. Bukti tertulis tersebut pada suatu ketika dapat dipergunakan untuk melakukan refleksi, yaitu proses bercermin dari kejadian yang telah lewat.
2)    Laporan aktifitas diluar kelas
Belajar itu tidak dibatasi oleh dinding kelas. Oleh karena itu diluar kelas bahkan diluar sekolah/kampus pun para siswa dan mahasiswa bisa tetap belajar. Oleh karena itu masyarakat dan lingkungan sekitar sebaiknya dijadikan laboratorium unuk belajar.

B.     Langkah – Langkah Membuat Instrumen Penilaian

1.      Langkah Penyusunan Instrumen Test

Langkah awal dalam mengembangkan instrumen adalah menetapkan spesifikasi, yaitu berisi uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu instrumen. Penyusunan spesifikasi instrumen mencakup kegiatan :
a.     Menentukan tujuan
b.    Menyusun kisi – kisi
c.     Memilih bentuk instrumen, dan
d.    Menentukan panjang instrumen

Kisi – kisi test adalah format atau matrik yang memuat informasi tentang spesifikasi soal – soal yang akan dibuat. Terdapat tiga langkah dalam mengembangkan kisi – kisi test dalam sistem penilaian berbasis kompetensi yaitu :
a.     Memuat daftar kompetensi dasar yang akan diujikan
b.    Menentukan indikator
c.     Menentukan jenis tagihan, bentuk dan jumlah butir soal

Paling sedikit memuat empat hal yang harus diperhatikan dalam memilih materi pembelajaran yang akan diujikan yaitu :
a.     Merupakan konsep dasar
b.    Merupakan materi kompetensi dasar berkelanjutan
c.     Memiliki nialai terapan
d.    Merupakan materi yang dibutuhkan untuk mempelajari bidang lain

Sumber utama kompetensi dasar adalah silabus. Tujuan yang akan dicapai disertai informasi tentang materi kemudian diuaraikan dalam bentuk indikator. Indikator – indikator mengacu pada kompetensi dasar dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan dalam memilih bahan yang akan diujikan. Jumlah butir soal tergantung pada waktu nyang disediakan dalam menyelesaikan tes yang akan diujikan.
Penyusunan instrumen berupa tes dalam penilaian berbasis kompetensi harus mengacu pada indikator perilaku siswa sebagai mana tertuang dalam kisi – kisi penilaian. Untuk menyusun tes dapat diikuti langkah – langkah sbb :
a.     Merencanakan tes, yang merujuk pada jenis alat penilaian
b.    Menulis butir tes, dengan memperhatikan indikator ketercapaian
c.     Merakit soal tes
Setelah membuat kisi – kisi aktivitas penilaian bisa dilanjutkan dengan membuat soal tes yang dibutuhkan, yakni :  
a.     Test Esay
 Test esay dapat digunakan untuk mengukur tujuan – tujuan khusus yang berupa pengertian, sikap, perhatian, kreatifitas dan espresi verbal. Bila dihubungkan dengan kemampuan kognitif Bloom, maka tes tersebut sangat berguna sekali untuk mengukur kemampuan aplikasi, analisis, sintesa dan evaluasi. Kekuatan utama pada test esay adalah penekanan pada kebebasan mengekspresikan dan melakukan kreatifitas.
-        Petunjuk penyusunan tes esay
1.    Soal hendaklah disusun sedemikian rupa sehingga terdapat kesepakatan atas jawaban yang benar tugas peserta tes jelas, tidak memiliki arti ganda.
2.    Tujuan dari tiap atau bagian soal hendaklah jelas
3.    Kata – kata dan bahasa yang dipilih hendaklah melahirkan pengertian yang sama/tepat dengan maksud soal dan tidak menggunakan istilah yang belum dipahami peserta.
4.    Jangan memberi soal terlalu banyak atau terlalu luas.
5.    Petunjuk tes hendak dibuat secara tertulis, seperti waktu yang diperlukan, skor tiap bagian soal dan banyak soal.
6.    Tidak boleh soal yang bersifat pilihan (opsional)
7.    Test sebaiknya telah mendapatkan masukan dari kawan dosen.
Kelebihan dan kekurangan test objektif dan tes uraian :
Tes
Kelebihan
Kekurangan
objektif
1.    Lebih representatif mewakili isi dan banyaknya materi /bahan
2.    Lebih objektif dalam penilaian
3.    Lebih mudah dan cepat memeriksanya
4.    Pemeriksaan hasil tes dapat dibantu orang lain
1.              Dibutuhkan persiapan penyusunan tes yang relatif lebih sulit dibandingkan tes uraian
2.              Cenderung untuk mengungangkapkan ingatan
3.              Banyak kesempatan untung – untungan
4.              Kerjasama siswa dalam menjawab tes lebih terbuka    
Uraian (essay)
1.    Relatif lebih mudah penyusunannya
2.    Tidak memberi kesempatan siswa untuk berspekulasi
3.    Memberi motivasi siswa untuk mengemukakan pendapatnya dengan bahasa sendiri
4.    Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi
1.              Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran karena terdiri dari beberapa butir soal
2.              Validitas dan realibiltas rendah karena sukar diketahui aspek mana yang dinilai
3.              Dalam penilain mudah dipengaruhi unsur subjektif dari penilai
4.              Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama

b.    Penyusunan tes objektif
1)    Soal benar salah ( true – false )
Tes ini merupakan pernyataan, dimana peserta tes atau test harus memilih mana pernyataan yang benar dan mana yang salah.
-        Pedoman penyusunan
1.    Rumusnya harus tidak meragukan sehingga dapat dinyatakan 100 % benar atau 100% salah.
2.    Kalimatnya disusun sesederhana mungkin dan positif.
3.    Setiap soal sebaiknya hanya mengandung satu pokok persoal atau satu ide saja.
4.    Hindari penggunaan kata – kata yang mengganggu pada pilihan jawaban.
5.    Pilihan jawaban benar salah ( B/S ) diatur sedemikian rupa sehingga tidak terdapat keteraturan jawaban.
Kelebihan dan kelemahan butir tes benar salah disajikan pada tabel berikut :
Kelebihan
Kekurangan
1.    Soal ini baik untuk hasil – hasil dimana  hanya ada dua alternatif jawaban
2.    Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca
3.    Sejumlah soal relatif dapat dijawab dalam tipe tes secara berkala
4.    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya
1.    Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda
2.    Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa siswa mengetahui dengan baik
3.    Tidak ada informasi diagnostik dari jawaban yang salah
4.    Memungkinkan dan mendorong siswa untuk menerka – nerka
c.     Menjodohkan ( Matching )
-        Pedoman  penyusunan
1.    Kata – kata dalam terjodoh ( premise ) dan penjodoh ( response ) masing – masing harus homogen d an disusun dalam satu kelompok tersendiri
2.    Jumlah kata – kata yang dipakai tidak kurang dari dan tidak lenih dari 15
3.    Jumlah kata terjodoh dan penjodoh tidak sama dan disusun dengan maksud penjodohan
4.    Dasar penjodohan harus jelas dan konsisten.
Kelebihan dan kekurangan  butir tes menjodohkan
Kelebihan
Kekurangan
1.    Suatu bentuk yang efisien diberikan dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal
2.    Waktu dan membaca dan merespon relatif singkat
3.    Mudah dibuat
4.    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya
1.    Materi soal dibatasi oleh faktor ingatan dan kurang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan yang bersifat pengertian dan kemapuan membuat tafsiran
2.    Sulit menyusun soal yang mengandung sejumlah respon yang homogen
3.    Mudah terpengaruh dengan petunjuk yang tidak relevan
d.    Penyusunan test jawaban pendek
-        Pedoman penyusunan
1.    Hanya kata – kata yang berarti yang dihilangkan pada bentu isian kalimat tidak sempurna
2.    Gramatika yang merupakan petunjuk untuk jawaban supaya dihindari
3.    Tempat jawaban ( blanks ) memiliki panjang yang sama dan diletakkan dibelakang kalimat disebelah kanan
4.    Jumlah skor/nilai ditentukan oleh banyaknya tempat jawaban ( balank ) dan bukan banyaknya butir soal
5.    Jawaban berupa kata – kata sependek mungkin dan hanya ada satu jawaban yang benar
6.    Hindari penggunaan kata – kata yang terdapat pada buku teks
7.    Hindari pernyataan yang tak terbatas
8.    Hindari pernyataan yang dihilangkan terlalu banyak ( overmutilated )

Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan
Kekurangan
1.    Mudah dalam pembuatan
2.    Kemungkinan menebak jawaban sangat sulit
3.    Cocok untuk soal – soal perhitungan
4.    Hasil – hasil pengetahuan dapat diketahui secara luas
1.    Sulit menyusun kata – kata yang jawaban hanya satu
2.    Tidak cocok untuk mengukur hasil – hasil belajar yang komplek
3.    Penilaian menjemukan dan memakan waktu banyak

e.     Penyusunan test pilihan ganda ( multiple choice )
Menurut para ahli test ini adalah yang aling baik dalam mengukur berbagai macam tujuan pengajaran, penskorannya mudah. Namun bentuk ini sulit menyusunnya. Soal ini terdiri dari dua bagian yaitu pokok soal dan pilihan.
-        Pedoman penyusunan
1.    Deskripsi masalah harus ditulis sehingga tidak merupakan jebakan
2.    Bila bentuknya melengkapi maka antara pokok soal dan pilihan harus merupakan bentuk kalimat yang lengkap
3.    Mempergunakan bentuk kalimat positif dan jika menggunakan bentuk kalimat ingkar, maka sebaiknya ditulis dengan huruf kapital ( TIDAK, BUKAN, KECUALI )
4.    Hindarkan penggunaan kata – kata tidak penting seperti kadang – kadang, seringkali.
5.    Setiap soal sebaiknya berdiri sendiri dan tidak merupakan petunjuk bagi yang lain
6.    Setiap pokok soal hanya mengandung satu permasalahan
7.    Dalam menyusun pilihan hendaknya homogen dalam kandungan makna.
8.    Kunci jawaban harus pasti tidak dapat didebatkan lagi, letaknya harus berubah – ubah.
9.    Pilihan sebaiknya disusun berdasarkan aturan kronologi.
10.              Penggunaan kata – kata dalam pilihan seperti : salah semua. Bila dipakai pilihan “ salah semua “ sebaiknya semua pilihan tersebut sederajat yaitu hampi semuanya benar.
11.              Hindari kata – kata yang sama pada pilihan

Kelebihan dan kekurangan butir tes pilihan ganda sbb :
Kelebihan
Kekurangan
1.    Hasil belajar dari yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur
2.    Terstruktur dan petunjuknya jelas
3.    Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik
4.    Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban
5.    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya
1.    Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama
2.    Sulit menemukan pengacau
3.    Kurang efektif mengukur tipe pemecahan masalah
4.    Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca yang baik


2.      Langkah penyusunan instrumen non test

a)    Instrumen untuk mengungkap aspek psikomotor
Ø Test tertulis
Ø Test identifikasi
Ø Test simulasi
Ø Test contoh kerja ( Work Example )
b)    Instrumen untuk mengungkap aspek afektif
Komponen afektif turut menentukan keberhasilan hasil belajar siswa. Paling tidak ada dua komponen afektif yang penting untuk diukur yaitu sikap dan minat pada pembelajaran.
Komponen non tes yang digunakan untuk mengungkap aspek afektif juga mempunyai andil dalam menentukan keberhasilan siswa. Langkah – langkah penyusunan instrumen afektif adalah sebagai berikut:
1.      Pilih perubahan afektif yang akan dinilai misalnya sikap dan tentukan indikator sikap misalnya respon terhadap tugas dari guru.
2.    Pilih skala yanng digunakan misalnya skala likert.
3.    Sikap infentori laporan diri ( daftar perilaku yang menggambarkan sikap dan minat )
4.    Telaah instrumen oleh teman sejawat.
5.    Perbaiki instrumen
6.    Skor infentori.

A.  Penskoran
Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam sistem penilaian ini dilakukan penskorandan penentuan standar keberhasilan belajar. Secara khusus sistem penilaian perlu memperhatikan keterkaitannya dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotor, ketiga ranah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

1.    Tes kognitif
Dalam ranah kognitif ini kita jumpai adanya beberapa model/jenis tes, antara lain :
a)    Penskoran Untuk Tes Bentuk Objektif   
Pada tes objektif hanya memiliki dua kemungkinan jawaban yaitu benar dan salah. Lazimnya, jawaban yang benar diberi skor 1, sedang jawan salah diberi skor 0. Skor yang dicapai siswa dilakukan dengan menjumlahkan semua jawaban benar. Jadi, skor siswa sama dengan jumlah jawaban benar. Hal ini berlaku untuk semua jenis objektif.
b)    Penskoran Untuk Tes Essay
Test essay tidak mempergunakan pola jawaban benar = 1dan salah = 0, atau data jenis pisah, tetapi menggunakan pola kontinum, misal 0 s/d 10, atau 0 s/d 100. Penskoran dapat pula menurut kebutuhan tergantung bobot dari masing – masing butir soal yang diujikan. Bobot nilai dari tiap butir soal tidak harus sama dan ditentukan berdasarkan cakupan bahan.
c)    Penskoran Tugas – Tugas
Untuk menilai tugas tertentu, dipelukan rambu – rambu khusus yang berisi aspek yang dinilai dan skor maksimum masing – masing aspek. Misalnya tugas mencari data di internet dengan hasil karya tulis dan perlu di presentasikan.
d)   Pengukuran Afektif
Penskoran untuk rana afektif umunya dibuat dalam bentuk skala bertingkat, misalnya dengan rentangan 5 – 1 atau 1 – 5 tergantung arah pertanyaan misalnya jawaban sangat setuju diberi skor 5, sedangkan sangat tidak setuju 1.
e)    Tes Psikomotor
Penskoran untuk tes psikomotor ( induk kerja ), umumnya dilakukan secara langsung ketika siswa berunjuk siswa dan dapat diamati cara penskorannya dapat dilakukan secara berjenjang seperti pada tes essay.

2.    Tes Lisan
Pertanyaan lisan dapat digunakan untuk mengetahui taraf serap peserta didik untuk masalah yang berkaitan dengan kognitif. Tingkat berpikir untuk pertanyaan lisan dikelas cenderung rendah, seperti pengetahuan dan pengalaman.
Kelebihan
Kekurangan
1.    Dapat mengeksploitasi kemampuan siswa secara langsung
2.    Bisa bertanya berbagai masalah langsung kepada siswa
1.    Didominasi oleh siswa yang pandai
2.    Menyita waktu untuk proses pembelajaran.











BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis – jenis instrumen terdiri dari dua yaitu tes dan nontes. Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seoarang siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan nontrs mrupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian, melalui pengamatan, skala sikap, angket dan catatan harian.
Langkah – langkah membuat penilaian instrumen tes mencakup kegiatan menentukan tujuan, menyusun kisi – kisi, memilih bentuk instrumen dan menetapkan panjang instrumen. Langkah penyusunan instrumen nontes yaitu untuk mengungkap aspek psikomotor dan afektif.
Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam sistem penilaian ini dilakukan penskoran dan penentuan standar keberhasilan belajar dimana dalam sistem penskorannya harus memperhatikan ranah kognitih, afektif dan psikomotor.

B.     Saran

Demikian hasil pembahasan dari instrumen penilaian semoga bermanfaat bagi pembaca. Dalam pembahasan ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu disarankan kepada pembaca untuk menambah referensi dari berbagai sumber untuk membandingkan beberapa teori yang berbeda. Sekian dan terima kasih.













DAFTAR PUSTAKA


Abdul Gafur. Desain Intruksional, Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar. Solo. 1980. Tiga Serangkai
Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rieneka Cipta
http://www.wikipedia.org
Jihad,asep.2012.Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta. PT Multipressindo.