Senin, 04 September 2017

Instrumen Penilaian


BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Dalam persiapan stategi proses belajar mengajar perlu disusun instumen penilaian dalam standar penguasaan. Penyusunan instrumen penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan penguasaan siswa terhadap suatu materi atau pokok bahasan. Seperti yang tercantum dalam buku Pelaksanaan Penilaian (2001), istilah instrumen penilaian disebut dengan istilah teknik penilaian yang berupa teknik tes dan nontes.

B.     Tujuan

1.      Memahami jenis – jenis instrumen penilaian
2.      Langkah – langkah penyusunan instrumen penilaian
3.      langkah memberikan penskoran pada tes

C.    Rumusan Masalah

1.      Apa saja  jenis – jenis tes
2.      Bagaimana langkah membuat instrumen penilaian tes
3.      Bagaimana langkah penskoran pada tes
















BAB II

PEMBAHASAN



A.    Jenis-Jenis Alat Penilaian

1.      Tes

Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telag menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.
Alat penilaian teknik tes, yaitu :
(a)  Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang harus diselesaikan oleh siswa secara tertulis;
(b)   Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara tanya jawab;
(c)    Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan yang mengukur keterampilan.
Bentuk penilaian berupa tes tertulis terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi piihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat. Bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian bebas. Agar diperoleh hasil penilaian yang objektif, hendaknya guru dapat menggunakan uraian terbatas dengan pemberian alternatif kunci pokok jawaban yang mungkin dijawab siswa untuk setiap soalnya.
Secara rinci teknis penilaian siswa bisa dilakukan dengan:
a.     Ulangan harian
Ulangan harian umumnya diberikan setelah selesainya satu materi pembelajaran tertentu.
b.    Tugas kelompok
Tugas kelompok dimaksudkan sebagai latihan bagi siswa dalam mengembangkan kompetensi kerja kelompok.
c.     Kuis
Kuis merupakan tes yang membutuhkan waktu singkat yaitu berkisar 10 – 15 menit. Pertanyaan hanya merupakan hal yang prinsip saja dan bentuk jawaban merupakan isian singkat.
d.    Ulangan Blok
Ulangan blok merupakan tes pada akhir beberapa materi pelajaran dengan bahan semua materi pokok yang telah diberikan. Materi yang diujikan disusun berdasarkan kisi-kisi soal.
e.     Pertanyaan Lisan
Pertanyaan yang diberikan berupa pengetahuan atau pemahaman tentang konsep. Teknik bertanya dilakukan memberikan pertanyaan kepada seluruh kelas dan siswa diberi kesempatan untuk memikirkan jawaban dan secara acak  menunjuk salah satu siswa untuk menjawab.
f.     Tugas individu
Tugas individu dimaksudkan sebagai latihan bagi siswa umtuk mengembangkan wawasan dan kompetensi berfikir.

2.      Nontes

Penilaian nontes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui :
a.     Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar  pengamatan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas;
b.    Skala sikap, yaitiu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-sial yag lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa;
c.     Angket, yaitu alat penilaian yang menyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis;
d.    Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai prilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya;

Aspek-aspek yang dieksploitasi dalam menilai non tes antara lain:
1)    Catatan Prilaku Harian
Tujuannya adalah untuk memperoleh bukti secara tertulis. Bukti tertulis tersebut pada suatu ketika dapat dipergunakan untuk melakukan refleksi, yaitu proses bercermin dari kejadian yang telah lewat.
2)    Laporan aktifitas diluar kelas
Belajar itu tidak dibatasi oleh dinding kelas. Oleh karena itu diluar kelas bahkan diluar sekolah/kampus pun para siswa dan mahasiswa bisa tetap belajar. Oleh karena itu masyarakat dan lingkungan sekitar sebaiknya dijadikan laboratorium unuk belajar.

B.     Langkah – Langkah Membuat Instrumen Penilaian

1.      Langkah Penyusunan Instrumen Test

Langkah awal dalam mengembangkan instrumen adalah menetapkan spesifikasi, yaitu berisi uraian yang menunjukkan keseluruhan karakteristik yang harus dimiliki suatu instrumen. Penyusunan spesifikasi instrumen mencakup kegiatan :
a.     Menentukan tujuan
b.    Menyusun kisi – kisi
c.     Memilih bentuk instrumen, dan
d.    Menentukan panjang instrumen

Kisi – kisi test adalah format atau matrik yang memuat informasi tentang spesifikasi soal – soal yang akan dibuat. Terdapat tiga langkah dalam mengembangkan kisi – kisi test dalam sistem penilaian berbasis kompetensi yaitu :
a.     Memuat daftar kompetensi dasar yang akan diujikan
b.    Menentukan indikator
c.     Menentukan jenis tagihan, bentuk dan jumlah butir soal

Paling sedikit memuat empat hal yang harus diperhatikan dalam memilih materi pembelajaran yang akan diujikan yaitu :
a.     Merupakan konsep dasar
b.    Merupakan materi kompetensi dasar berkelanjutan
c.     Memiliki nialai terapan
d.    Merupakan materi yang dibutuhkan untuk mempelajari bidang lain

Sumber utama kompetensi dasar adalah silabus. Tujuan yang akan dicapai disertai informasi tentang materi kemudian diuaraikan dalam bentuk indikator. Indikator – indikator mengacu pada kompetensi dasar dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan – penyimpangan dalam memilih bahan yang akan diujikan. Jumlah butir soal tergantung pada waktu nyang disediakan dalam menyelesaikan tes yang akan diujikan.
Penyusunan instrumen berupa tes dalam penilaian berbasis kompetensi harus mengacu pada indikator perilaku siswa sebagai mana tertuang dalam kisi – kisi penilaian. Untuk menyusun tes dapat diikuti langkah – langkah sbb :
a.     Merencanakan tes, yang merujuk pada jenis alat penilaian
b.    Menulis butir tes, dengan memperhatikan indikator ketercapaian
c.     Merakit soal tes
Setelah membuat kisi – kisi aktivitas penilaian bisa dilanjutkan dengan membuat soal tes yang dibutuhkan, yakni :  
a.     Test Esay
 Test esay dapat digunakan untuk mengukur tujuan – tujuan khusus yang berupa pengertian, sikap, perhatian, kreatifitas dan espresi verbal. Bila dihubungkan dengan kemampuan kognitif Bloom, maka tes tersebut sangat berguna sekali untuk mengukur kemampuan aplikasi, analisis, sintesa dan evaluasi. Kekuatan utama pada test esay adalah penekanan pada kebebasan mengekspresikan dan melakukan kreatifitas.
-        Petunjuk penyusunan tes esay
1.    Soal hendaklah disusun sedemikian rupa sehingga terdapat kesepakatan atas jawaban yang benar tugas peserta tes jelas, tidak memiliki arti ganda.
2.    Tujuan dari tiap atau bagian soal hendaklah jelas
3.    Kata – kata dan bahasa yang dipilih hendaklah melahirkan pengertian yang sama/tepat dengan maksud soal dan tidak menggunakan istilah yang belum dipahami peserta.
4.    Jangan memberi soal terlalu banyak atau terlalu luas.
5.    Petunjuk tes hendak dibuat secara tertulis, seperti waktu yang diperlukan, skor tiap bagian soal dan banyak soal.
6.    Tidak boleh soal yang bersifat pilihan (opsional)
7.    Test sebaiknya telah mendapatkan masukan dari kawan dosen.
Kelebihan dan kekurangan test objektif dan tes uraian :
Tes
Kelebihan
Kekurangan
objektif
1.    Lebih representatif mewakili isi dan banyaknya materi /bahan
2.    Lebih objektif dalam penilaian
3.    Lebih mudah dan cepat memeriksanya
4.    Pemeriksaan hasil tes dapat dibantu orang lain
1.              Dibutuhkan persiapan penyusunan tes yang relatif lebih sulit dibandingkan tes uraian
2.              Cenderung untuk mengungangkapkan ingatan
3.              Banyak kesempatan untung – untungan
4.              Kerjasama siswa dalam menjawab tes lebih terbuka    
Uraian (essay)
1.    Relatif lebih mudah penyusunannya
2.    Tidak memberi kesempatan siswa untuk berspekulasi
3.    Memberi motivasi siswa untuk mengemukakan pendapatnya dengan bahasa sendiri
4.    Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi
1.              Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran karena terdiri dari beberapa butir soal
2.              Validitas dan realibiltas rendah karena sukar diketahui aspek mana yang dinilai
3.              Dalam penilain mudah dipengaruhi unsur subjektif dari penilai
4.              Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama

b.    Penyusunan tes objektif
1)    Soal benar salah ( true – false )
Tes ini merupakan pernyataan, dimana peserta tes atau test harus memilih mana pernyataan yang benar dan mana yang salah.
-        Pedoman penyusunan
1.    Rumusnya harus tidak meragukan sehingga dapat dinyatakan 100 % benar atau 100% salah.
2.    Kalimatnya disusun sesederhana mungkin dan positif.
3.    Setiap soal sebaiknya hanya mengandung satu pokok persoal atau satu ide saja.
4.    Hindari penggunaan kata – kata yang mengganggu pada pilihan jawaban.
5.    Pilihan jawaban benar salah ( B/S ) diatur sedemikian rupa sehingga tidak terdapat keteraturan jawaban.
Kelebihan dan kelemahan butir tes benar salah disajikan pada tabel berikut :
Kelebihan
Kekurangan
1.    Soal ini baik untuk hasil – hasil dimana  hanya ada dua alternatif jawaban
2.    Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca
3.    Sejumlah soal relatif dapat dijawab dalam tipe tes secara berkala
4.    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya
1.    Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda
2.    Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa siswa mengetahui dengan baik
3.    Tidak ada informasi diagnostik dari jawaban yang salah
4.    Memungkinkan dan mendorong siswa untuk menerka – nerka
c.     Menjodohkan ( Matching )
-        Pedoman  penyusunan
1.    Kata – kata dalam terjodoh ( premise ) dan penjodoh ( response ) masing – masing harus homogen d an disusun dalam satu kelompok tersendiri
2.    Jumlah kata – kata yang dipakai tidak kurang dari dan tidak lenih dari 15
3.    Jumlah kata terjodoh dan penjodoh tidak sama dan disusun dengan maksud penjodohan
4.    Dasar penjodohan harus jelas dan konsisten.
Kelebihan dan kekurangan  butir tes menjodohkan
Kelebihan
Kekurangan
1.    Suatu bentuk yang efisien diberikan dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal
2.    Waktu dan membaca dan merespon relatif singkat
3.    Mudah dibuat
4.    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya
1.    Materi soal dibatasi oleh faktor ingatan dan kurang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan yang bersifat pengertian dan kemapuan membuat tafsiran
2.    Sulit menyusun soal yang mengandung sejumlah respon yang homogen
3.    Mudah terpengaruh dengan petunjuk yang tidak relevan
d.    Penyusunan test jawaban pendek
-        Pedoman penyusunan
1.    Hanya kata – kata yang berarti yang dihilangkan pada bentu isian kalimat tidak sempurna
2.    Gramatika yang merupakan petunjuk untuk jawaban supaya dihindari
3.    Tempat jawaban ( blanks ) memiliki panjang yang sama dan diletakkan dibelakang kalimat disebelah kanan
4.    Jumlah skor/nilai ditentukan oleh banyaknya tempat jawaban ( balank ) dan bukan banyaknya butir soal
5.    Jawaban berupa kata – kata sependek mungkin dan hanya ada satu jawaban yang benar
6.    Hindari penggunaan kata – kata yang terdapat pada buku teks
7.    Hindari pernyataan yang tak terbatas
8.    Hindari pernyataan yang dihilangkan terlalu banyak ( overmutilated )

Kelebihan dan kekurangan
Kelebihan
Kekurangan
1.    Mudah dalam pembuatan
2.    Kemungkinan menebak jawaban sangat sulit
3.    Cocok untuk soal – soal perhitungan
4.    Hasil – hasil pengetahuan dapat diketahui secara luas
1.    Sulit menyusun kata – kata yang jawaban hanya satu
2.    Tidak cocok untuk mengukur hasil – hasil belajar yang komplek
3.    Penilaian menjemukan dan memakan waktu banyak

e.     Penyusunan test pilihan ganda ( multiple choice )
Menurut para ahli test ini adalah yang aling baik dalam mengukur berbagai macam tujuan pengajaran, penskorannya mudah. Namun bentuk ini sulit menyusunnya. Soal ini terdiri dari dua bagian yaitu pokok soal dan pilihan.
-        Pedoman penyusunan
1.    Deskripsi masalah harus ditulis sehingga tidak merupakan jebakan
2.    Bila bentuknya melengkapi maka antara pokok soal dan pilihan harus merupakan bentuk kalimat yang lengkap
3.    Mempergunakan bentuk kalimat positif dan jika menggunakan bentuk kalimat ingkar, maka sebaiknya ditulis dengan huruf kapital ( TIDAK, BUKAN, KECUALI )
4.    Hindarkan penggunaan kata – kata tidak penting seperti kadang – kadang, seringkali.
5.    Setiap soal sebaiknya berdiri sendiri dan tidak merupakan petunjuk bagi yang lain
6.    Setiap pokok soal hanya mengandung satu permasalahan
7.    Dalam menyusun pilihan hendaknya homogen dalam kandungan makna.
8.    Kunci jawaban harus pasti tidak dapat didebatkan lagi, letaknya harus berubah – ubah.
9.    Pilihan sebaiknya disusun berdasarkan aturan kronologi.
10.              Penggunaan kata – kata dalam pilihan seperti : salah semua. Bila dipakai pilihan “ salah semua “ sebaiknya semua pilihan tersebut sederajat yaitu hampi semuanya benar.
11.              Hindari kata – kata yang sama pada pilihan

Kelebihan dan kekurangan butir tes pilihan ganda sbb :
Kelebihan
Kekurangan
1.    Hasil belajar dari yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur
2.    Terstruktur dan petunjuknya jelas
3.    Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik
4.    Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban
5.    Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya
1.    Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama
2.    Sulit menemukan pengacau
3.    Kurang efektif mengukur tipe pemecahan masalah
4.    Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca yang baik


2.      Langkah penyusunan instrumen non test

a)    Instrumen untuk mengungkap aspek psikomotor
Ø Test tertulis
Ø Test identifikasi
Ø Test simulasi
Ø Test contoh kerja ( Work Example )
b)    Instrumen untuk mengungkap aspek afektif
Komponen afektif turut menentukan keberhasilan hasil belajar siswa. Paling tidak ada dua komponen afektif yang penting untuk diukur yaitu sikap dan minat pada pembelajaran.
Komponen non tes yang digunakan untuk mengungkap aspek afektif juga mempunyai andil dalam menentukan keberhasilan siswa. Langkah – langkah penyusunan instrumen afektif adalah sebagai berikut:
1.      Pilih perubahan afektif yang akan dinilai misalnya sikap dan tentukan indikator sikap misalnya respon terhadap tugas dari guru.
2.    Pilih skala yanng digunakan misalnya skala likert.
3.    Sikap infentori laporan diri ( daftar perilaku yang menggambarkan sikap dan minat )
4.    Telaah instrumen oleh teman sejawat.
5.    Perbaiki instrumen
6.    Skor infentori.

A.  Penskoran
Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam sistem penilaian ini dilakukan penskorandan penentuan standar keberhasilan belajar. Secara khusus sistem penilaian perlu memperhatikan keterkaitannya dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotor, ketiga ranah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

1.    Tes kognitif
Dalam ranah kognitif ini kita jumpai adanya beberapa model/jenis tes, antara lain :
a)    Penskoran Untuk Tes Bentuk Objektif   
Pada tes objektif hanya memiliki dua kemungkinan jawaban yaitu benar dan salah. Lazimnya, jawaban yang benar diberi skor 1, sedang jawan salah diberi skor 0. Skor yang dicapai siswa dilakukan dengan menjumlahkan semua jawaban benar. Jadi, skor siswa sama dengan jumlah jawaban benar. Hal ini berlaku untuk semua jenis objektif.
b)    Penskoran Untuk Tes Essay
Test essay tidak mempergunakan pola jawaban benar = 1dan salah = 0, atau data jenis pisah, tetapi menggunakan pola kontinum, misal 0 s/d 10, atau 0 s/d 100. Penskoran dapat pula menurut kebutuhan tergantung bobot dari masing – masing butir soal yang diujikan. Bobot nilai dari tiap butir soal tidak harus sama dan ditentukan berdasarkan cakupan bahan.
c)    Penskoran Tugas – Tugas
Untuk menilai tugas tertentu, dipelukan rambu – rambu khusus yang berisi aspek yang dinilai dan skor maksimum masing – masing aspek. Misalnya tugas mencari data di internet dengan hasil karya tulis dan perlu di presentasikan.
d)   Pengukuran Afektif
Penskoran untuk rana afektif umunya dibuat dalam bentuk skala bertingkat, misalnya dengan rentangan 5 – 1 atau 1 – 5 tergantung arah pertanyaan misalnya jawaban sangat setuju diberi skor 5, sedangkan sangat tidak setuju 1.
e)    Tes Psikomotor
Penskoran untuk tes psikomotor ( induk kerja ), umumnya dilakukan secara langsung ketika siswa berunjuk siswa dan dapat diamati cara penskorannya dapat dilakukan secara berjenjang seperti pada tes essay.

2.    Tes Lisan
Pertanyaan lisan dapat digunakan untuk mengetahui taraf serap peserta didik untuk masalah yang berkaitan dengan kognitif. Tingkat berpikir untuk pertanyaan lisan dikelas cenderung rendah, seperti pengetahuan dan pengalaman.
Kelebihan
Kekurangan
1.    Dapat mengeksploitasi kemampuan siswa secara langsung
2.    Bisa bertanya berbagai masalah langsung kepada siswa
1.    Didominasi oleh siswa yang pandai
2.    Menyita waktu untuk proses pembelajaran.











BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis – jenis instrumen terdiri dari dua yaitu tes dan nontes. Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seoarang siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan nontrs mrupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian, melalui pengamatan, skala sikap, angket dan catatan harian.
Langkah – langkah membuat penilaian instrumen tes mencakup kegiatan menentukan tujuan, menyusun kisi – kisi, memilih bentuk instrumen dan menetapkan panjang instrumen. Langkah penyusunan instrumen nontes yaitu untuk mengungkap aspek psikomotor dan afektif.
Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam sistem penilaian ini dilakukan penskoran dan penentuan standar keberhasilan belajar dimana dalam sistem penskorannya harus memperhatikan ranah kognitih, afektif dan psikomotor.

B.     Saran

Demikian hasil pembahasan dari instrumen penilaian semoga bermanfaat bagi pembaca. Dalam pembahasan ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu disarankan kepada pembaca untuk menambah referensi dari berbagai sumber untuk membandingkan beberapa teori yang berbeda. Sekian dan terima kasih.













DAFTAR PUSTAKA


Abdul Gafur. Desain Intruksional, Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar. Solo. 1980. Tiga Serangkai
Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rieneka Cipta
http://www.wikipedia.org
Jihad,asep.2012.Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta. PT Multipressindo.